jump to navigation

SAYA JADI TURIS DI JAKARTA February 6, 2009

Posted by opiniandit in Uncategorized.
trackback

Unik memang dan sedikit terlupakan bahwa kita memiliki bahasa yang indah dan baik. Namun pada keseharian kita dalam melihat sisi kota ( yang katanya megapolitan ) masih terdapat kegelisahan dan penuh rasa tanya dalam diri saya. Bayangkan kota ini ( Jakarta maksud saya ) memang sudah diharuskan berkembang dan terus maju, tapi dalam perkembangan jakarta yang akan diproses dari metropolitan menjadi megapolitan saya cenderung melihat justru kita kehilangan jati diri sebagai Indonesia. Saya melihat dari dalam kota saja ( huff terasa seperti turis alias bule ) bisa anda bayangkan jika jalan – jalan keliling kota ini, lihatlah gedung – gedung, bangunan – bangunan, apartemen, mall dan kawasan tertentu atau bahkan kuburan mewah yang diberi nama atau penamaan dengan penamaan asing. Aneh rasanya kita yang tinggal di sini seperti turis yang semua – semuanya serba bahasa inggris. Bukannya saya anti terhadap bahasa inggris tapi rasanya jadi terlalu berlebihan jika melihat keadaan sekarang yang hampir semua bagian kota ini bernama asing. Padahal waktu jaman penjajahan dulu kita susah payah untuk menasionalisasikan semua aset – aset penjajah kala itu. Sangatlah kontradiksi jika dilihat pada saat ini.
Kita mulai kehilangan kepercayaan diri kita sebagai bangsa yang memiliki khasanah kebahasaan yang baik. Saya makin tak mengerti atas nama apa semua ini terjadi. Satu hal apakah atas nama globalisasi, perubahan megapolitan ( semua harus inggris biar investor senang?? ) atau atas nama apa lagi?? Trend, gaya atau inovasi? Lucukan di Jakarta sekarang sudah seperti turis asing. Beberapa contoh ( Senayan City, Semua mall yang bernama square,The Mansion at Kemang, Kuningan City, yang lucu sampai nama kuburan saja pake nama inggris San Diego Hill, hmm apa kata orang amrik tuh nama daerahnya dia di Indonesia ternyata jadi nama kuburan. Ya meskipun kuburan elite tapi tetep aja kuburan ) lihat kita ternyata hanya bisa diam atau mungkin justru bangga dengan apresiasi pengunaan penamaan ini ( menurut saya berlebihan ). Padahal harusnya sebagai ibukota Jakarta adalah representatif gambaran dari Indonesia karena jakarta merupakan gerbang yang baik untuk memulai apa itu Indonesia. Miris sekali kalau kota tercinta ini yang semua elemen penghias kota bernama asing. Sering kali saya pun bercanda dengan kawan – kawan saya ( kalo semua jadi inggris, coba kita iseng – iseng bikin nama daerah kita jadi bahasa inggris hahaahaha, niy misalnya pisangan lama = old banana, kebon jeruk = orange garden, trus kayu manis = sweet wood. Hah pokoknya karena rasa heran itulah maka saya dan kawan – kawan memberi lelucon ini ). Padahal bahasa kita itu diakui indah lho. Coba lihat kompas hari sabtu kemarin yang menulis artikel tentang Matthew Charles ( pemilik wordpress ) dalam artikel tentang dia, saya membaca bahwa Indonesia merupakan bahasa terbesar ketiga di wordpress (menurut Matthew wordpress setara dengan facebook ) wow fantastis bukan ternyata setelah bahasa inggris dan spanyol bahasa kita ini terbesar ketiga meskipun hanya dalam situs pengunaan blog ( kumpulnya blogger ) dan oleh sebab itu Mr. Matthew mau dateng ke Indonesia. Tapi kembali lagi dengan tata kota kita yang menjadi asing dan kita sebagai warganya menjadi terasingkan. Siapa yang memang kita perlu ketahui alasannya, jangan sampai Jakarta ini atas nama megapolitan mengubah jati dirinya jadi inggris ( kasian tuh orang – orang betawi ), ya jika seiring berjalannya waktu semua atas nama megapolitan kasian wargo kota kita yang memang belum bisa ikut arus perubahan jadi megapolitan dan jikalau demikian maka yang terjadi bukanlah megapolitan tapi tegapolitan.Temukan jawabannya menurut anda sendiri karena persepsi ini terbentuk atas nama individu akibat dari yang kita lihat.

Comments»

1. Ryan Ayam - February 6, 2009

PERTAMAX!
(hehehe….komen pertama nih!)

yang hendak saya tambahkan adalah, selain penamaan tempat dan daerah dengan bahasa inggris, sering terdengar pula ditelinga kita pembicaraan dengan bahasa2 asing (yang pada umumnya adalah bahasa inggris) disekitar kita.

apabila kita duduk disebuah kafe yang terletak di sebuah mall besar, kita akan sering mendengar pecakapan yang kadang disisipi dengan bahasa inggris, seperti:
A – “oy, pakabar loe? gileeee…long time no see yaaa..”
B – “wahahaha…baek2 aja. btw kok telat nyampe?”
A – “sorry, biasalah..traffic jam…”
B – “iya sih…working hour sih…”
itulah sedikit cuplikan yang bisa kita dengar dimana2 belakangan ini.
kalo kata duo kartunis Benny dan Mice, mereka bilangnya “inggris setengah mateng”

kejadian diatas dan apa yang telah diutarakan oleh rekan andit adalah salah satu pengaruh dari globalisasi. tidaklah salah apabila kita bisa menggunakan bahasa asing karena akan bisa menjadi nilai lebih bagi bangsa ini.
tapi yang terjadi malah kebablasan. kita menjadi sebuah bangsa yang rakyatnya mulai lupa akan budayanya.

infiltrasi demi infiltrasi terjadi di segenap sendi2 kebudayaan masyarakat kita. sehingga hampir tidak lagi tersisa “merah putih” didalam jiwa masyarakat kita. (dalam konteks ini adalah masyarakat metropolitan jakarta.)

sungguh ironis melihat pemuda2 kita dengan bangga memamerkan jurus2 tarian mereka di nightclub, sedangkan banyak orang2 bule datang ke sanggar tari daerah untuk belajar menari atau main gamelan.

masih mau marah2 kalo kebudayaanya diklaim negara tetangga?
lestarikan dong!
mulai dari dalam diri sendiri!!!

Indonesia Raya
Merdeka, Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya!

2. Fajrie Hanggono - May 3, 2009

Bener banget kata bung ryan..
Sebenernya alasan paling tepat bagi mereka kenapa menggunakan kata-kata “bule”, pasti mereka mengatas-namakan globalisasi. Dan sepenglihatan saya, konsep globalisasi bagi orang Indonesia dan orang luar Indonesia sangat jauh berbeda. Dimana ketika saya melihat di negara sesama asia tenggara seperti Thailand atau Vietnam, globalisasi itu adalah bagaimana mereka mengglobalkan negara mereka ke dunia global. Sedangkan di Indonesia, globalisasi sangat identik dengan barat-isasi.

Banyak banget orang yang merasa pintar ato bodo kalo menurut saya, dimana mereka bangga kalo mereka menggunakan sisipan bahasa inggris dalam setiap percakapan mereka, mungkin maksudnya biar terlihat intelek. Dan mereka justru menganggap mereka memiliki level yg lebih tinggi dari orang-orang yg menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Mereka bangga dan merasa pintar dengan berkata,
“Sebentar, gw lagi ada meeting dengan client tentang customer yang meminta space tambahan buat event kita!”
daripada
“Sebentar, gw lagi ada rapat dengan rekanan tentang konsumen yang meminta ruang tambahan buat acara kita!”

Termasuk dalam penamaan mall dan gedung-gedung, dimana mereka memiliki persepsi dengan menamakan gedung mereka dengan nama “bule” maka gedung mereka memiliki level yang lebih tinggi dibanding dengan gedung yg menggunakan nama lokal.

Jadi satu-satunya cara yang paling efektif, tumbuhkan semangat merah putih mulai dari diri kita sendiri. Dengan bangga akan bahasa kita, kita bangga akan negara kita!
Hidup Indonesia!!

3. Lulu Prasetya - July 11, 2009

iya ya…sedih banget dengan keadaan yang ada sekarang ini. kenapa siy mereka ga bangga dengan bahasa yang indah ini???

gw adalah penikmat sastra indonesia. gw suka banget baca novel indonesia baik penulis senior maupun penulis baru. gw sedih banget, waktu gw lagi baca novel or puisi, ada temen yang bilang kalo sastra indonesia itu kata2nya ” dangdut banget”, coba kalo pake bahasa inggris pasti lebih “so sweet”.

bagaimana ya mengubah pemikiran yang “sok modern” tapi justru “norak” ini?? sampai sekarang gw juga masih berpikir, kira2 gimana yah caranya??