jump to navigation

BAIK ATAU BENAR February 19, 2009

Posted by opiniandit in Uncategorized.
3 comments

Bicara soal baik pasti semua ingin menjadi baik dan ketika bicara benar semua juga pasti ingin menjadi benar. Dua kata diatas tentu memberikan persepsi dan sudut pandang kita sebagai individu yang akan menilainya, karena bertanya mengenai apakah kita akan menjadi orang yang baik atau orang benar? Tentunya akan memberikan jawaban yang dilematis nagi sebagian orang. Hal ini jelas terbayangkan bahwa kita memang mendambakan menjadi individu yang baik ataupun individu yang benar. Namun belakangan ini saya melihat bahwa pada kenyataannya persepsi mengenai baik tidak sedangkal yang kita pikirkan. Jauh dari itu baik lebih bernilai terhadap situasi sosial kita kepada sesama individu yang lebih berkaitan dalam sosial kita sebagai manusia. Dan bicara tentang benar itu sendiri banyak persepsi kita yang dapat mengintepretasikan mengenai apa itu benar? Benar tentu berkaitan dengan suatu pendapat yang berdasarkan fakta dan memiliki nilai keabsolutan yang dapat dipertanggungjawabkan. Melihat keadaan dan peristiwa sekitar, beberapa hal yang menarik bagi saya untuk memberikan suatu pandangan melalui penulisan ini.
Lucu dan menarik jika kita memang diberikan suatu contoh dari keadaan sekeliling kita yang ternyata dapat memberikan kontribusi dalam hal perngertian baik atau benar. Berada dalam lingkup sosial kita sebagai mahkluk sosial bukan semata – mata kita sebagai individu harus mengeluarkan jiwa sosial kita pada moment – moment yang menurut kita sebenarnya salah. Atau dapat diartikan kita dapat senantiasa berbuat baik namun kontradiksi dalam hal kebaikan itu sendiri. Apa yang akan saya paparkan tentu sebenarnya berkaitan dengan kondisi sehari – hari kita yang tanpa kita sadari bahwa sebenarnya salah dimata kita, dan kita sebagai makhluk sosial seolah – olah memberikan kemakluman pada suatu peristiwa itu. Masuk kedalam peristiwa yang saya lihat atau mungkin ada juga orang yang lain yang merasakannya. Kasus kecil seperti pertemanan sahabat dalam hal solidaritas baik susah maupun senang, yang justru sebenarnya menjebak kita dalam lingkaran berpikir yang teramat jauh dari keberanian dalam mengatakan benar. Kembali ke analogi kasus sehari – hari kerjasama pertemanan memang merupakan hal yang indah dalam suatu persahabatan, baik dalam keadaan sosial pertemanan atau sampai pada urusan penentuan nasib persahabatan. Keseharian yang saya lihat seperti kerjasama dua orang sahabat dalam waktu ujian ( mungkin ini memang sudah biasa, hahahaha seperti orang naif saya ini bahkan saya juga pernah merasakan indahnya kerjasama dalam ujian penentuan nasib ) dalam satu sisi kita sebagai teman tentunya memang ingin membantu teman kita yang kesusahan dalam menghadapi masalah ( misalnya ujian tadi ) bila kita tinjau sama – sama memang membantu adalah hal yang baik namun apakah baik dalam posisi ini memang memberikan cerminan baik yang sesungguhnya?. Tentunya bukan itu yang menjadi cerminan baik yang sesungguhnya baik dalam posisi seperti ini memberikan pandangan yang dilematis memang terkadang kita berbuat baik dengan alasan dia teman saya namun hal itu justru menjebak kita dalam pandangan yang sempit bahwa apa yang kita lakukan itu akan memberikan pandangan yang tidak benar pada posisi tersebut. Baik dalam urusan solidaritas ( karena kita berteman ) namun justru tidak menjadi benar karena sebenarnya kita menjerumuskan teman kita untuk terus malas tanpa usaha maksimal. Pada posisi sosial semata, baik memang harus dimiliki bagi setiap individu namun bagaimana jadinya bila ternyata baik itu tidak berada pada tempatnya seperti contoh diatas.
Ulasan yang terjadi pada contoh kasus diatas tentu dapat memberikan pemahaman kita bahwa ternyata penting bagi kita untuk memposisikan baik itu pada tempatnya dan benar pada kondisi bahwa memang itu benar. Hal ini memang tidaklah mudah karena timbulnya perasaan dilematis pada diri kita apakah baik itu belum tentu benar sepenuhnya dan benar sudah sepenuhnya baik?. Hanya anda yang dapat memberikan masing – masing penilaian.

SAYA JADI TURIS DI JAKARTA February 6, 2009

Posted by opiniandit in Uncategorized.
3 comments

Unik memang dan sedikit terlupakan bahwa kita memiliki bahasa yang indah dan baik. Namun pada keseharian kita dalam melihat sisi kota ( yang katanya megapolitan ) masih terdapat kegelisahan dan penuh rasa tanya dalam diri saya. Bayangkan kota ini ( Jakarta maksud saya ) memang sudah diharuskan berkembang dan terus maju, tapi dalam perkembangan jakarta yang akan diproses dari metropolitan menjadi megapolitan saya cenderung melihat justru kita kehilangan jati diri sebagai Indonesia. Saya melihat dari dalam kota saja ( huff terasa seperti turis alias bule ) bisa anda bayangkan jika jalan – jalan keliling kota ini, lihatlah gedung – gedung, bangunan – bangunan, apartemen, mall dan kawasan tertentu atau bahkan kuburan mewah yang diberi nama atau penamaan dengan penamaan asing. Aneh rasanya kita yang tinggal di sini seperti turis yang semua – semuanya serba bahasa inggris. Bukannya saya anti terhadap bahasa inggris tapi rasanya jadi terlalu berlebihan jika melihat keadaan sekarang yang hampir semua bagian kota ini bernama asing. Padahal waktu jaman penjajahan dulu kita susah payah untuk menasionalisasikan semua aset – aset penjajah kala itu. Sangatlah kontradiksi jika dilihat pada saat ini.
Kita mulai kehilangan kepercayaan diri kita sebagai bangsa yang memiliki khasanah kebahasaan yang baik. Saya makin tak mengerti atas nama apa semua ini terjadi. Satu hal apakah atas nama globalisasi, perubahan megapolitan ( semua harus inggris biar investor senang?? ) atau atas nama apa lagi?? Trend, gaya atau inovasi? Lucukan di Jakarta sekarang sudah seperti turis asing. Beberapa contoh ( Senayan City, Semua mall yang bernama square,The Mansion at Kemang, Kuningan City, yang lucu sampai nama kuburan saja pake nama inggris San Diego Hill, hmm apa kata orang amrik tuh nama daerahnya dia di Indonesia ternyata jadi nama kuburan. Ya meskipun kuburan elite tapi tetep aja kuburan ) lihat kita ternyata hanya bisa diam atau mungkin justru bangga dengan apresiasi pengunaan penamaan ini ( menurut saya berlebihan ). Padahal harusnya sebagai ibukota Jakarta adalah representatif gambaran dari Indonesia karena jakarta merupakan gerbang yang baik untuk memulai apa itu Indonesia. Miris sekali kalau kota tercinta ini yang semua elemen penghias kota bernama asing. Sering kali saya pun bercanda dengan kawan – kawan saya ( kalo semua jadi inggris, coba kita iseng – iseng bikin nama daerah kita jadi bahasa inggris hahaahaha, niy misalnya pisangan lama = old banana, kebon jeruk = orange garden, trus kayu manis = sweet wood. Hah pokoknya karena rasa heran itulah maka saya dan kawan – kawan memberi lelucon ini ). Padahal bahasa kita itu diakui indah lho. Coba lihat kompas hari sabtu kemarin yang menulis artikel tentang Matthew Charles ( pemilik wordpress ) dalam artikel tentang dia, saya membaca bahwa Indonesia merupakan bahasa terbesar ketiga di wordpress (menurut Matthew wordpress setara dengan facebook ) wow fantastis bukan ternyata setelah bahasa inggris dan spanyol bahasa kita ini terbesar ketiga meskipun hanya dalam situs pengunaan blog ( kumpulnya blogger ) dan oleh sebab itu Mr. Matthew mau dateng ke Indonesia. Tapi kembali lagi dengan tata kota kita yang menjadi asing dan kita sebagai warganya menjadi terasingkan. Siapa yang memang kita perlu ketahui alasannya, jangan sampai Jakarta ini atas nama megapolitan mengubah jati dirinya jadi inggris ( kasian tuh orang – orang betawi ), ya jika seiring berjalannya waktu semua atas nama megapolitan kasian wargo kota kita yang memang belum bisa ikut arus perubahan jadi megapolitan dan jikalau demikian maka yang terjadi bukanlah megapolitan tapi tegapolitan.Temukan jawabannya menurut anda sendiri karena persepsi ini terbentuk atas nama individu akibat dari yang kita lihat.