MR. BRIGHTSIDE January 22, 2009
Posted by opiniandit in Uncategorized.trackback
Haru biru kemenangan presiden Amerika terpilih Barack Obama sungguh membuat euforia yang begitu besar sampai ke tanah air ( bahkan untuk peristiwa pelantikannya saja hampir seluruh stasiun TV di Indonesia menyiarkannya ) bak selebritis kepopuleran Barack Obama memang sangat terasa berbeda dibandingkan Pemilu AS sebelumnya. Hal ini tentunya menjadi suatu pandangan atau persepsi yang memang perlu untuk kita kaji, lepas dari Barack Obama yang memang memiliki hubungan batin dengan Indonesia. Namun euforia ini memang terbentuk oleh kondisi opini masyarakat global yang memang telah jenuh dengan konsepsi pemikiran pemimpin yang telah usang. Disamping itu harapan yang begitu besar sungguh telah diberikan kepada sang presiden terpilih. Ini memang menjadi bahasan diskusi kita dalam kaitannya dengan efek yang akan diterima oleh negara kita, memang Barack Obama pernah menetap di Indonesia namun apakah hal ini dapat dijadikan parameter kita dalam menilai kebijakan – kebijakan yang akan diambil Barack Obama kelak dalam memimpin Amerika dan dapat memberikan dampak yang positif pada Indonesia.
Di tanah air sendiri memang benar – benar terasa euforia kilauan penokohan dan pencitraan yang dibentuk untuk Barack Obama, sungguh terlalu dalam menyambut pemilu di AS. Sampai pada hal yang lucu ketika saya kuliah, waktu itu mata kuliah yang saya ambil adalah seminar pemasaran ini merupakan mata kuliah terakhir sebelum menuju tugas akhir atau yang biasa dibilang skripsi. Dikelas itu saya dengan rekan – rekan lain seperti biasa hanya mendengarkan dosen, mengerjakan tugas yang diberikan dan bila perlu presentasi di depan kelas. Hal yang menurut saya menarik dari kelas ini adalah saat dosen saya memberikan tugas tentang analisis marketing peristiwa – peristiwa politik. Waktu itu sedang hangat – hangatnya kita melihat kemenangan gubernur Jawa Barat yang lebih populer disebut HADE. Tak lepas juga dari peristiwa luar negeri seperti peristiwa Barack Obama ini, yang kala itu sedang bertarung dengan Hillary Clinton ( mantan Ibu Negara AS yang sempat tergocang rumah tangganya oleh Monica Lewinsky kala Pak Clinton memimpin AS ). Memang seru dan menjadi perhatian seluruh masyarakat peristiwa ini. Terlintas di benak saya bahwa sebesar inilah opini yang terbentuk atas inisiatif kaum muda yang memang memiliki dasar untuk perubahan. Dapat dibayangkan saat kuliah untuk marketing sesaat berubah untuk menganalisis marketing politik Barack Obama. Dampak inilah yang saat ini menjadi pertanyaan saya, apakah saat pemilu kemarin ekspektasi kita terhadap tokoh yang kita puja dapat sesuai dengan realita yang ada kedepan. Tak dapat dipungkirin, kondisi ini terasa sangat kontradikasi dengan apa yang ada, lihat dulu kondisi tanah air. Hal yang sama juga terjadi saat Presiden SBY menuju kursinya di tahun 2004. Ekspektasi kita sangat besar terhadap suatu perubahan dan berbagai hal – hal dalam penyelesaian problematika negeri ini. Tahun ini akan menuju pada kepemimpinan yang baru. Berbagai macam kebijakan dikeluarkan dalam menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat, sebut saja penurunan harga BBM yang begitu terasa bagai obat penyejuk bagi rakyat kecil, padahal bila kita tinjau seksama memang penurunan ini dapat dikatakan seperti pemanfaatan momentum untuk merias citra pemerintah agar dapat maju lagi ke panggung. Saya pikir penurunan harga yang begitu dramatis ini bukanlah suatu prestasi namun lebih kepada keharusan atau kewajiban karena memang harga minyak dunia sudah berangsur – angsur turun, kebijakan – kebijakan lain pemerintah saat akhir periode ini telah menjurus pada kebijakan semi populis dimana kebijakan – kebijakan yang ada memang diarahkan untuk memberikan satisfaction terhadap masyarakat mayoritas. Seperti sedang bermain drama saja kadang – kadang memainkan antagonis lalu berubah menjadi prontagonis. Memang wajar bila sedikit berbenah diri saat ingin tampil lagi. Nah bila didalam negeri sudah seperti ini hal yang sama juga menjadi ekspektasi dan penilaian persepsi saya terhadap Presiden terpilih Barack Obama ( yang pelantikannya saja sudah seperti konser woodstock, ramai oleh penonton ). Saya berpendapat bila terlalu tinggi ekspektasi kita terhadap pencitraan tokoh dapat memberikan efek terhadap kepemimpinannya. Seperti halnya kebijakan – kebijakan yang akan diambilmemiliki kecenderungan kearah kebijakan populis ( atau dapat dikatakan supaya semua pihak senang ) untuk menyokong penokohan dan pencitraan kepemimpinannya. Tentunya menjadi bahan diskusi kita bersama bahwa apakah memang Barack Obama ini memiliki differensiasi dibanding pemimpin – pemimpin AS sebelumnya. Sedikit kontradiksi memang terlihat, saat India diguncang bom oleh pihak tertentu Presiden terpilih ini angkat bicara untuk mengutuk tindakan tersebut, namun justru yang menjadi keraguan saya saat invasi Israel ke Palestina. Seolah diam dalam kondisi dilematis atau memang sejalan dan sepemikiran, Barack Obama justru tidak banyak bicara saat moment tersebut. Padahal peristiwa di Jalur Gaza menjadi duka bersama lepas dari mayoritas persepsi sempit akan konflik agama, namun peristiwa ini harusnya memang menjadi perhatian bersama ( apalagi negara sebesar AS, harusnya dapat memberikan kontribusi yang efektif bagi perdamaian di Timur Tengah ). Semoga saja kondisi yang kontradiksi ini dapat sesuai dengan realita kedepan, karena ekspektasi kita sangat besar terhadap pemikiran Barack Obama bagi perdamaian dunia.





loe jadi pemerhati politik ya sekarang ndit??
tulisan lu ini kok intelek bgt ya..
hehehe
hahahaahaha gw banyak belajar dari orang dikampus dan semua senior gw, btw lebih baik berperan lewat tulisan daripada kita harus masuk PARPOL karena itu terlalu prematur buat kita…