MENDIDIK MAHASISWA DENGAN PERGERAKAN DAN MENDIDIK PENGUASA DENGAN PERLAWANAN January 22, 2009
Posted by opiniandit in Uncategorized.trackback
Berbagai macam peristiwa dinegeri ini tentunya telah banyak memberikan dampak dan manfaat yang signifikan terhadap perubahan segi sosial politik dan rasa keIndonesiaan yang besar bagi masyarakat. Mahasiswa sebagai motor perubahan tidak dapat dapat dikesampingkan sebagai insan yang memiliki peranan penting terhadap perubahan di berbagai belahan dunia khususnya di Indonesia. Sebut saja berbagai peristiwa yang menjadi tongak perubahan dimulai dengan Sumpah Pemuda 1928 hingga berakhirnya rezim Soeharto di tahun 1998 yang dinamakan era reformasi. Peranan ini terus terjaga dan mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak – hak rakyat, namun justru belakangan ini terlihat penurunan atau degradasi pergerakan mahasiswa yang rentan dari perpecahan dikalangan mahasiswa itu sendiri. Sebuah gerakan mahasiswa yang masih mau berpretensi menjadi gerakan moral dan pengawal kebijakan pemerintah demi menuju demokrasi, ukuran kalah atau menang dan kuat atau lemah tidaklah menjadi standar penilaian. Yang lebih penting adalah, bahwa ketika terjadi pertarungan antara isu demokrasi dan dagang sapi, penindasan dan keadilan sosial, kejujuran dan korupsi, maka mahasiswa harus tetap konsisten berdiri di belakang rakyat. Dengan begitu, meskipun tidak berhasil menumbangkan rezim, mereka tetap akan dikenang rakyat sebagai pahlawan hati nurani dan penyambung aspirasi rakyat yang sesungguhnya. Sebuah kasus di China yakni peristiwa terbunuhnya para mahasiwa yang melakukan demonstrasi di lapangan Tiananmen pada 1988, akhirnya terbukti banyak berpengaruh dalam penumbangan kekuasan Deng Xiaoping. Sebab, pascaperistiwa tersebut, terjadi pertikaian elite politik di pemerintah dan tubuh Partai Komunis Cina yang menyebabkan pergeseran kekuasaan ( Calhoun, 1997 )(Neither Gods Nor Emperors, Students and Struggle for Democracy in China, 1997). Memberikan bukti bahwa mahasiswa memang memiliki tanggung jawab dan peranan dalam mengawal kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa harus senantiasa bangkit dan bersemangat untuk menyelamatkan bangsanya dari sebuah konspirasi politik nasional ataupun kekuatan kapitalisme global.
Di Indonesia sendiri peristiwa yang fenomenal terjadi di tahun 1998 yakni Gerakan mahasiswa Indonesia 1998 adalah puncak gerakan mahasiswa tahun sembilan puluhan yang ditandai dengan tumbangnya Orde Baru dengan ditandai lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, tepatnya pada tanggal 21 Mei 1998 Gerakan ini diawali dengan terjadinya krisis moneter di pertengahan tahun 1997. Harga-harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan mahasiswa. Ibarat gayung bersambut, gerakan mahasiswa dengan agenda reformasi mendapat simpati dan dukungan dari rakyat. Gedung wakil rakyat, yaitu Gedung DPR/MPR dan gedung-gedung DPRD di daerah, menjadi tujuan utama mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia. Seluruh elemen mahasiswa yang berbeda paham dan aliran dapat bersatu dengan satu tujuan untuk menurunkan Soeharto. Komitmen yang tegas dan solid pada waktu memberikan cerminan bahwa betapa solidnya pergerakan mahasiswa karena adanya common enemy yaitu rezim Soeharto.
Keadaan ini justru kontradiksi bila dibandingkan pergerakan mahasiswa setelah peristiwa 1998. Stagnasi pergerakan mahasiswa sekarang ini telah menjadi ulasan atau diskusi kita bersama. Hilangnya orientasi common enemy menjadi masalah yang datang setelah peristiwa 1998. Setelah Soeharto tumbang otomatis rezim yang garang dan berbaju baja praktis hilang digantikan dengan suara – suara kebebasan dan unsur – unsur masyarakat untuk beraspirasi. Pada akhirnya gerakan mahasiswa yang terfokus pada aksi massa atau demonstrasi jalanan bukan lagi menjadi khas mahasiswa seperti ditahun 1998. Sekarang justru setiap kelompok manapun bebas untuk berdemonstrasi kejalan memperjuangkan kepentingannya. Menurut Suwignyo ( 2008 ) seolah antitesis keberhasilan monumental menggulingkan rezim orde baru satu dekade lalu, akhir – akhir ini mahasiswa Indonesia menampilkan perilaku agresif dalam bentuk tawuran. Masalah yang terjadi saat ini adalah pertama terputusnya komunikasi antar generasi 1998 pada era saat ini baik dari elemen organisasi intra kampus dan organisasi ekstra kampus ( HMI, PMII, IMM, GMNI ). Masalah kedua adalah berubahnya minat saat ini dimana kondisi pengaruh hegemoni budaya barat telah melanda generasi muda saat ini, berbagai fasilitas seperti pembentukan komunitas dalam dunia maya telah menghilangkan esensi idealisme kerakyatan berbasis gerakan. Ketiga adanya pandangan bahwa common enemy gerakan mahasiswa harus berbentuk rezim politik, paradigma sempit inilah yang harusnya dikoreksi karena berbagai masalah timbul setelah 1998 bukan hanya sebatas rezim politik namun jauh dari pada itu masalah – masalah seperti persoalan lingkungan hidup, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Sebuah harapan baru diharapkan lahir dari kita yang memang memiliki peranan untuk bergerak memulai suatu tindakan yang berguna bagi masyarakat. Seperti kasus di Surabaya keberhasilan mahasiswa teknik mendesain robot, Di Jakarta mahasiswa menyuarakan kebersihan lingkungan dengan kampanye lingkungan bersih, atau didaerah lain seperti Sleman mahasiswa menghimpun dana untuk penanaman sejuta pohon ( Kompas, 2008 ). Tantangan yang ada saat ini pasca 1998 adalah perwujudan penguatan kesadaran identitas sosial dan peranan sosial kemanusiaan, jelas perilaku agrasif seperti tawuran bukan termasuk didalamnya. Perlunya refleksi bersama dari apa yang memang kita cita – citakan bersama untuk Indonesia dengan paham keIndonesiaan “ bersaudara dalam perbedaan dan berbeda dalam persaudaraan “.




Comments»
No comments yet — be the first.