jump to navigation

brutalisme ala satpol PP May 19, 2009

Posted by anditceria in Uncategorized.
1 comment so far

Kejadian pada tanggal 11 mei 2009 di Surabaya sungguh memberikan gambaran pada publik bahwa aparat kita yang semula bisa kita andalkan sebagai tempat kita berlindung justru kontradiksi dengan aturan main. Tak tampak rasa manusiawi dalam diri aparat yang sebenarnya dibina untuk menertibkan bukan untuk semata – mata melakukan tindakan represif berlebihan. Bagaimana bisa ketika didalam kejadian itu seorang ibu yang memang sedang mengendong anak balitanya terkena dampak parah dari aparat. Sepertinya tindakan yang seperti ini akan menimbulkan berbagai efek atau trauma tersendiri karena tiap hari kita selalu diperlihatkan kejadian yang penuh kekerasan tanpa alasan dan perlawanan dari pihak yang diserang.

Ironi negeri ini semakin parah dan tak terkendali, orang -orang kecil semakin terlihat tak berdaya melawan dampak dari aturan main yang seolah – olah memperdulikan hak – hak azasi. Dimana hak – hak itu?? dimana nurani kita sebagai satu bangsa tapi seperti kanibal yang rela memperkosa hak – hak orang lain, tanpa jelas aturan mainnya. Bayangkan kita peristiwa itu sudah terjadi semua pihak yang bersangkutan hanya bisa diam tanpa kata, yang ada hanya isak tangsi seorang ibu ketika melihat anaknya menjadi jenazah akibat tindakan brutal aparat. Sudah terlalu banyak kasus dari aparat macam ini, dan rasanya kita harus buat perubahan untuk mengembalikan aparatur negara sesuai fungsinya lagi. Semoga kejadian ini memberika kontribusi yang positif bagi semua pihak akan pentingnya hak – hak azasi kita sesama manusia dan satu bangsa.andit1

aku cinta internet??? ( indomie telor kornet ) May 8, 2009

Posted by anditceria in Uncategorized.
2 comments

huff, melihat apa yang sedang digemari sekarang rasanya saya akan bicara bahwa kita memang memiliki rasa kecanduan yang lebih, lebih dan lebih dengan hal yang satu ini yaitu internet. Bagaimana tidak lepas dari fungsi dasar internet yang semula hanya untuk pemberi informasi yang aktual dari berbagai belahan bumi dan pada akhirnya mengalami metamorfosis yang mengarah pada makin terjerumusnya kita akan komunikasi melalui internet. Saya menekankan pada pertumbuhan situs – situs jejaring sosial, yang tadinya biasa saja namun sekarang jadi sangat luar biasa sampai – sampai memiliki efek hipnotis yang besar bagi pengaruhnya gaya hidup kita. Tak perlu jauh – jauh untuk mengambil sampel / contoh dari efek internet ini, melihat teman – teman sekitar saya yang hampir tiap malam lebih memilih menghabiskan waktu untuk ” meniduri layar komputernya “. Itulah betapa berartinya lagu milik bad religion ” i love my computer “. Mungkin dahulu tidak separah itu efek dari internet tapi lihat sekarang mulai dari friendster, my space, facebook, yahoo messenger, twitter, msn dan masih banyak candu – candu yang lainnya.

Gak salah memang jika saat ini fungsi dari internet telah banyak mengalami pergeseran selain dari fungsi dasarnya, perubahan fungsi inilah yang tanpa kita sadari telah menyebabkan pola hidup kita berubah, sampai – sampai jika tidak ada komputer handphone pun itu di perjuangkan untuk jadi multi fungsi supaya terus up date ( gila !!!!! ). Ternyata manfaat situs – situs jejaring sosial ini juga dapat diartikan sebagai simbol pergaulan dan eksistensi kita dimata lingkungan kita. Bisa kita bayangkan jika ternyata nilai eksistensi kita dilihat dari aktifnya kita hidup didunia maya ini, nah bagaimana jika kita tidak ud date di dunia maya ini?? ( apa berarti tidak eksis??. Saya lebih melihat bahwa pandangan tentang peranan internet juga harus dapat memiliki manfaat bagi orang lain. Jika anda termasuk orang yang memang rajin membuka situs jejaring sosial anda mulai sekarng buat lah situs itu jadi ajang pemberi manfaat atau sumber informasi bagi orang lain, dan bukan hanya curhat semata yang sebenarnya memang tetap memiliki hak. Atau jika tidak mulailah beralih ke internet ( indomie telor kornet ) lebih sehat.
1andit

BAIK ATAU BENAR February 19, 2009

Posted by anditceria in Uncategorized.
3 comments

Bicara soal baik pasti semua ingin menjadi baik dan ketika bicara benar semua juga pasti ingin menjadi benar. Dua kata diatas tentu memberikan persepsi dan sudut pandang kita sebagai individu yang akan menilainya, karena bertanya mengenai apakah kita akan menjadi orang yang baik atau orang benar? Tentunya akan memberikan jawaban yang dilematis nagi sebagian orang. Hal ini jelas terbayangkan bahwa kita memang mendambakan menjadi individu yang baik ataupun individu yang benar. Namun belakangan ini saya melihat bahwa pada kenyataannya persepsi mengenai baik tidak sedangkal yang kita pikirkan. Jauh dari itu baik lebih bernilai terhadap situasi sosial kita kepada sesama individu yang lebih berkaitan dalam sosial kita sebagai manusia. Dan bicara tentang benar itu sendiri banyak persepsi kita yang dapat mengintepretasikan mengenai apa itu benar? Benar tentu berkaitan dengan suatu pendapat yang berdasarkan fakta dan memiliki nilai keabsolutan yang dapat dipertanggungjawabkan. Melihat keadaan dan peristiwa sekitar, beberapa hal yang menarik bagi saya untuk memberikan suatu pandangan melalui penulisan ini.
Lucu dan menarik jika kita memang diberikan suatu contoh dari keadaan sekeliling kita yang ternyata dapat memberikan kontribusi dalam hal perngertian baik atau benar. Berada dalam lingkup sosial kita sebagai mahkluk sosial bukan semata – mata kita sebagai individu harus mengeluarkan jiwa sosial kita pada moment – moment yang menurut kita sebenarnya salah. Atau dapat diartikan kita dapat senantiasa berbuat baik namun kontradiksi dalam hal kebaikan itu sendiri. Apa yang akan saya paparkan tentu sebenarnya berkaitan dengan kondisi sehari – hari kita yang tanpa kita sadari bahwa sebenarnya salah dimata kita, dan kita sebagai makhluk sosial seolah – olah memberikan kemakluman pada suatu peristiwa itu. Masuk kedalam peristiwa yang saya lihat atau mungkin ada juga orang yang lain yang merasakannya. Kasus kecil seperti pertemanan sahabat dalam hal solidaritas baik susah maupun senang, yang justru sebenarnya menjebak kita dalam lingkaran berpikir yang teramat jauh dari keberanian dalam mengatakan benar. Kembali ke analogi kasus sehari – hari kerjasama pertemanan memang merupakan hal yang indah dalam suatu persahabatan, baik dalam keadaan sosial pertemanan atau sampai pada urusan penentuan nasib persahabatan. Keseharian yang saya lihat seperti kerjasama dua orang sahabat dalam waktu ujian ( mungkin ini memang sudah biasa, hahahaha seperti orang naif saya ini bahkan saya juga pernah merasakan indahnya kerjasama dalam ujian penentuan nasib ) dalam satu sisi kita sebagai teman tentunya memang ingin membantu teman kita yang kesusahan dalam menghadapi masalah ( misalnya ujian tadi ) bila kita tinjau sama – sama memang membantu adalah hal yang baik namun apakah baik dalam posisi ini memang memberikan cerminan baik yang sesungguhnya?. Tentunya bukan itu yang menjadi cerminan baik yang sesungguhnya baik dalam posisi seperti ini memberikan pandangan yang dilematis memang terkadang kita berbuat baik dengan alasan dia teman saya namun hal itu justru menjebak kita dalam pandangan yang sempit bahwa apa yang kita lakukan itu akan memberikan pandangan yang tidak benar pada posisi tersebut. Baik dalam urusan solidaritas ( karena kita berteman ) namun justru tidak menjadi benar karena sebenarnya kita menjerumuskan teman kita untuk terus malas tanpa usaha maksimal. Pada posisi sosial semata, baik memang harus dimiliki bagi setiap individu namun bagaimana jadinya bila ternyata baik itu tidak berada pada tempatnya seperti contoh diatas.
Ulasan yang terjadi pada contoh kasus diatas tentu dapat memberikan pemahaman kita bahwa ternyata penting bagi kita untuk memposisikan baik itu pada tempatnya dan benar pada kondisi bahwa memang itu benar. Hal ini memang tidaklah mudah karena timbulnya perasaan dilematis pada diri kita apakah baik itu belum tentu benar sepenuhnya dan benar sudah sepenuhnya baik?. Hanya anda yang dapat memberikan masing – masing penilaian.

SAYA JADI TURIS DI JAKARTA February 6, 2009

Posted by anditceria in Uncategorized.
3 comments

Unik memang dan sedikit terlupakan bahwa kita memiliki bahasa yang indah dan baik. Namun pada keseharian kita dalam melihat sisi kota ( yang katanya megapolitan ) masih terdapat kegelisahan dan penuh rasa tanya dalam diri saya. Bayangkan kota ini ( Jakarta maksud saya ) memang sudah diharuskan berkembang dan terus maju, tapi dalam perkembangan jakarta yang akan diproses dari metropolitan menjadi megapolitan saya cenderung melihat justru kita kehilangan jati diri sebagai Indonesia. Saya melihat dari dalam kota saja ( huff terasa seperti turis alias bule ) bisa anda bayangkan jika jalan – jalan keliling kota ini, lihatlah gedung – gedung, bangunan – bangunan, apartemen, mall dan kawasan tertentu atau bahkan kuburan mewah yang diberi nama atau penamaan dengan penamaan asing. Aneh rasanya kita yang tinggal di sini seperti turis yang semua – semuanya serba bahasa inggris. Bukannya saya anti terhadap bahasa inggris tapi rasanya jadi terlalu berlebihan jika melihat keadaan sekarang yang hampir semua bagian kota ini bernama asing. Padahal waktu jaman penjajahan dulu kita susah payah untuk menasionalisasikan semua aset – aset penjajah kala itu. Sangatlah kontradiksi jika dilihat pada saat ini.
Kita mulai kehilangan kepercayaan diri kita sebagai bangsa yang memiliki khasanah kebahasaan yang baik. Saya makin tak mengerti atas nama apa semua ini terjadi. Satu hal apakah atas nama globalisasi, perubahan megapolitan ( semua harus inggris biar investor senang?? ) atau atas nama apa lagi?? Trend, gaya atau inovasi? Lucukan di Jakarta sekarang sudah seperti turis asing. Beberapa contoh ( Senayan City, Semua mall yang bernama square,The Mansion at Kemang, Kuningan City, yang lucu sampai nama kuburan saja pake nama inggris San Diego Hill, hmm apa kata orang amrik tuh nama daerahnya dia di Indonesia ternyata jadi nama kuburan. Ya meskipun kuburan elite tapi tetep aja kuburan ) lihat kita ternyata hanya bisa diam atau mungkin justru bangga dengan apresiasi pengunaan penamaan ini ( menurut saya berlebihan ). Padahal harusnya sebagai ibukota Jakarta adalah representatif gambaran dari Indonesia karena jakarta merupakan gerbang yang baik untuk memulai apa itu Indonesia. Miris sekali kalau kota tercinta ini yang semua elemen penghias kota bernama asing. Sering kali saya pun bercanda dengan kawan – kawan saya ( kalo semua jadi inggris, coba kita iseng – iseng bikin nama daerah kita jadi bahasa inggris hahaahaha, niy misalnya pisangan lama = old banana, kebon jeruk = orange garden, trus kayu manis = sweet wood. Hah pokoknya karena rasa heran itulah maka saya dan kawan – kawan memberi lelucon ini ). Padahal bahasa kita itu diakui indah lho. Coba lihat kompas hari sabtu kemarin yang menulis artikel tentang Matthew Charles ( pemilik wordpress ) dalam artikel tentang dia, saya membaca bahwa Indonesia merupakan bahasa terbesar ketiga di wordpress (menurut Matthew wordpress setara dengan facebook ) wow fantastis bukan ternyata setelah bahasa inggris dan spanyol bahasa kita ini terbesar ketiga meskipun hanya dalam situs pengunaan blog ( kumpulnya blogger ) dan oleh sebab itu Mr. Matthew mau dateng ke Indonesia. Tapi kembali lagi dengan tata kota kita yang menjadi asing dan kita sebagai warganya menjadi terasingkan. Siapa yang memang kita perlu ketahui alasannya, jangan sampai Jakarta ini atas nama megapolitan mengubah jati dirinya jadi inggris ( kasian tuh orang – orang betawi ), ya jika seiring berjalannya waktu semua atas nama megapolitan kasian wargo kota kita yang memang belum bisa ikut arus perubahan jadi megapolitan dan jikalau demikian maka yang terjadi bukanlah megapolitan tapi tegapolitan.Temukan jawabannya menurut anda sendiri karena persepsi ini terbentuk atas nama individu akibat dari yang kita lihat.

SI DOEL YANG INSPIRATIF January 31, 2009

Posted by anditceria in Uncategorized.
1 comment so far

Subtitle : Betawi Language
Hadirnya sinema elektronik ( sinetron ) saat ini memang jadi primadona bagi seluruh pemirsa televisi, mulai dari anak – anak, ibu – ibu sampe nenek juga mau ambil bagian. Ya memang demam sinetron bukan kali ini saja terjadi ( di era 90`an demam sinetron juga malah parah contohnya sinetron yang memang memiliki karakteristik episode panjang – panjang seperti TERSANJUNG 1- selesai, trus ada juga yang edukatif kayak SI DOEL ANAK SEKOLAHAN ). Nah ngomong – ngomong soal SI DOEL ANAK SEKOLAHAN ( sempet beberapa kali pindah tayang di stasiun TV mulai RCTI trus ke INDOSIAR ). Rasa nostalgia sama sinetron macam ini dah lama banget gak liat, tapi belakangan ini SI DOEL ANAK SEKOLAHAN tayang lagi nih. Wah pagi gw jadi terasa seru juga liat THE LEGEND OF SINETRON. Dimotori oleh Rano Karno sebagai pemeran utama ( doi sekarang udah jadi tokoh di Tangerang ) dan aksi kocak Mandra dan Bang Ben ( betawi legend ) sinetron ini memang gak pernah bosen untuk ditonton. Dalam sinetron ini terdapat unsur – unsur yang menarik seperti bahasa gaul yang dipake anak jaman sekarang ( anjrit, sumpe, sampe bahasa macam celepuk juga ternyata dah muncul lewat sinetron ini ). Sayang seiring berjalannya waktu SI DOEL mulai kehilangan beberapa bintangnya. Mulai dari Wafatnya Pak Tile, Bang Ben, Nyak Rodieh, sampe yang terakhir Mas Basuki ( yang akrab dengan burung perkutunya “ si badut “ ). Tapi buat gw Si DOEL mang tetep jadi sinetron terbagus sepanjang masa. Masalahnya walaupun ditinggal pergi sama bintang – bintangnya SI DOEL tetep eksis dan gak pernah ngebosenin. Belim lagi pesan moril yang begitu kental terasa. Kalo dibandingin sama sinetron jaman sekarang. Wah, gw gak bisa ngomong dah ( masalahnya sinetron jaman sekarang itu cengeng, mendayu – dayu, isinya simple palingan tentang cinta, putus cinta, konflik keluarga trus ya gak jauh – jauh paling sama temanya rebutan warisan keluarga, ya paling lucu ada juga sinetron di INDOSIAR yang pake dubbing “ dah kayak film india aje “ ). Nah sinetron yang kayak gini niy yang menurut gw bikin pengaruh gak bener buat anak – anak bau kencur jaman sekarang. Coba dah lo pada perhatiin benerkan fenomena sekarang memang membuat anak – anak sekarang terdegradai moralnya. Macem ini niy pengaruh – pengaruh yang menurut gw kita sebagai orang yang tahu harusnya bersikap. Bukan asal – asalan ikut arus pasar.si-doel1si-doel2

About Author ( anditceria ) January 31, 2009

Posted by anditceria in Uncategorized.
1 comment so far

Personal :
Januari 11, 1987 / Jakarta
Male
Moslem

School :
SDN.Rawamangun 01
SMPN 74 Rawamangun
SMAN 22 JAKARTA
UNIVERSITAS TRISAKTI

Organization :
( HMJ Manajemen Trisakti,HMI Usakti dan Kepresma USAKTI )

Hobbies :
- Futsal
- Reading and Writing all about our issue
- Collect Die Cast ( HotWheels, Macthbox, Corgi, Tomica and Other type of die cast )
- Travelling

Favorite Books :
all book by Om Pram ( bumi manusia, tetralogi pulau buru and etc )

Favorite Music :
Lokal Underground ( yes support our lokal band )

About Me :
sederhana sebagai soerang laki – laki yang pasti selalu punya mimpi untuk memberikan yang terbaik bagi semua tapi memang butuh perjuangan panjang dan melelahkan.
Lahir sebagai anak sulung dari tiga bersaudara tentu memberikan gw tanggung jawab yang besar pula tapi dari tanggung jawab itu lah gw dapat belajar banyak tentang hidup ini, apalagi di jakarta yang keras ini.
Oya soal tipe Blog ini, gw sedikit mendiffersiasikan blog ini dengan memasukkan topik – topik yang bersifat sosial dan isu sekitar kita yang tanpa kita sadari kita tanpa punya banyak kritik.
yang terakhir semoga blog ini berguna bagi kita yang baca.

thanks.
anditya wirawangw-sendiri

fatwa bukan solusi January 24, 2009

Posted by anditceria in Uncategorized.
add a comment

Rokok merupakan bagian yang sulit dipisahkan dari konsumen Indonesia pada khususnya. Hal ini ditandai dengan bentuk inovasi serta kemajuan yang terus mendorong bertambahnya konsumen rokok itu sendiri, bahkan sampai pada usia dini rokok telah merambah masuk. Layaknya bagian dari budaya orang Indonesia yang sulit dipisahkan. Namun, problematika yang ada saat ini mengenai rokok memang telah menginspirasi saya atas wacana bahwa MUI akan mengeluarkan fatwa haram soal rokok.
Sangatlah naif dan narrow minded, jika keputusan ini sampai terjadi. Aneh rasanya bahwa lembaga sekelas MUI hanya memandang sempit problematika soal rokok ini. Memang harus kita akui bahwa dampak dari perkembangan bisnis rokok telah menimbulkan gejolak baik pro maupun kontra. Namun, disisi lain justru konsumen itu sendirilah yang menikmati hal yang ditimbulkan dari rokok. Mengapa saya tadi katakan terlalu naif dan narrow minded. Melihat dari adanya berbagai persoalan yang berkaitan dengan tugas dan peranan MUI sebagai lembaga yang memang bertujuan sebagai filter sesuai dengan kaidah keIslaman bagi masyarakat. Hal yang perlu dicermati adalah persoalan rokok bukanlah hal yang menjadi primary untuk segera diselasaikan. Sebut saja persoalan mengenai kondisi cultural masyarakat kita terhadap imajinasi tentang aliran sesat, yang menurut saya sampai saat ini belum mencapai pada suatu kondisi untuk penyelesaian masalah secara total dan sistematik. Apakah dengan keluarnya suatu fatwa maka masalha dapat selesai??. Tentu hal ini lah yang akan menjadi kekhawatiran bersama. Lepas dari berbagai dorongan untuk membuat masyarakat menjadi aman dengan iming – iming fatwa tersebut. Hal ini tidak bisa hanya terselesaikan hanya sebatas pengeluaran fatwa yang relatif hanya akan memberikan efek shock therapy pada masyarakat. Namun kita butuh langkah – langkah yang sistematis dan mendasar untuk meminimalisasi dampak dari perkembangan rokok tersebut. Jelas bila kondisi ini memang akan menimbulkan gejolak terutama dikalangan perusahaan rokok baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Karena konsumen hanya sebatas menikmati dan memang tidak bertujuan untuk menyebar luaskan apa itu rokok?. Kondisi yang sangat tragis terjadi di negara kita. Bayangkan rokok sudah dikenal lama di Indonesia mulai dari berbagai macam seperti rokok putih, kretek dan jenis – jenis lain. Belum lagi masalah mengenai CSR yang dibentuk oleh produsen rokok itu sendiri jadi seolah – olah rokok memang racun tapi juga punya kepedulian mengenai prestasi bangsa lho. Menarik memang jika kita lihat di televisi dan berbagai billboard. Berbagai macam bentuk promosi sampai pada pensponsoran event – event besar. Salah satu contoh adalah liga lokal kita yakni liga Indonesia hampir dari sejak berjalannya liga sepakbola nasional kita pasti disponsori oleh produsen rokok ( Liga Dunhil, Liga Djarum, Indonesian Super League sampai ada lagi Copa Dji Sam Soe = maaf harus sebut bener biar jelas! ). Tak cukup di sepakbola rokok menjadi main sponsor bagi cabang – cabang olah raga lainnya. Berkaitan dengan rencana MUI untuk mengeluarkan fatwa haram soal rokok, hal semacam inilah yang harusnya didahulukan untuk meminimalisasikan dampak buruk rokok pada masyarakat. Bagaimana tidak regulasi soal rokok juga terkesan bebas seolah tanpa batas. Sehingga untuk acara olahraga, musik dan lain – lain harus pakai sponsor rokok. Dibandingkan kita sibuk berdiskusi soal keluarnya fatwa atau tidak?. Lebih baik kita mulai dari hal kecil dan sistematis mengenai regulasi atau pembatasan rokok untuk ikut campur pada event – event yang berkaitan dengan masyarakat, Karena disadari atau tidak dari event – event itulah maka rokok memliki brand awareness yang tinggi. Jadi jangan ciptakan kondisi sosial yang bergejolak jika rokok adalah barang haram dan perokok adalah melanggar hukum Islam. Karena merokok atau tidak merupakan kebebasan individu untuk menikmati hidupnya dan kalo pun ada orang yang meninggal karena masalah rokok itu terletak pada individu itu sendiri, karena mati merupakan kesempurnaan hidup.

FASHION : UNITED OF CORPS January 24, 2009

Posted by anditceria in Uncategorized.
5 comments

Bicara tentang kekuatan fashion yang memang bagi sebagian orang menilai atau memiliki perpektif tentang fashion yang dangkal sebagai pelengkap semata. Padahal jika kita bahas lebih dalam fashion sendiri ternyata memiliki kekuatan secara psikologis yang dapat memberikan dampak positif. Nah, fashion sendiri dapat diartikan berbagai macam, sesuai dengan persepsi dan perpektif kita masing – masing. Hal inilah yang menjadi ketertarikan saya untuk biacra mengenai kekuatan fashion, fashion sendiri dapat diartikan bagian dari identitas perubahan era atau zaman. Dan dalam konsepsi lain fashion sendiri juga dapat didefinisikan sebagai gaya hidup atau identitas seseorang didalam lingkungannya. Fashion memang terus berkembang sesuai tuntutan jaman dan memang dalam kondisi yang selalu dinamis. Namun, kondisi fashion ternyata ada juga yang tidak mengalami perkembangan. Hal ini dikatakan sebagai fashion old skul atau kondisi fashion yang memang tidak akan mengalami perubahan model meski jaman telah berubah. Sebagai contoh kategori fashion yang termasuk old skul ini seperti busana Raja Inggris atau Busana para petinggi Keraton di Indonesia. Pada bagian fashion ini memang tidak mendapat tuntutan untuk berubah karena pengertian fashion yang dimaksud sebagai simbol kemuliaan atau lambang besar sebagai identitas suatu tatanan sosial dan kultural. Menarik kita bayangkan bagaimana jika busana dari keraton berubah – ubah tiap jaman atau bahkan berubah tiap masa kepemimpinan. Wah, pastinya jadilah hal yang aneh untuk dilihat misalnya jika keraton berubah busananya menjadi pengenaan bahan jeans pada salah satu bagian busananya. Tentunya akan sangat menarik dan jadi koreksi bersama karena simbol atau identitas keraton pasti akan hilang ( lucu atau culun ya?? Kalo tiba – tiba Sri Sultan pada acara keraton pake Jeans?? ). Oleh sebab itulah arti dari kemajuan fashion sebenarnya bukan terletak dari perubahan model yang menarik. Namun, lebih dari itu fashion sendiri dapat berarti jika fashion itu menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas ( komunitas punk : selalu tampil dengan rambut mohawk nya, karena inilah bentuk identitas fashion yang sebenarnya, bukan hanya terletak pada model tapi jelas konsistensi dalam membangun image atau identitas yang kuat bagi pengunanya ).
Contoh tersebut belum cukup untuk mengambarkan kekuatan fashion yang sebenarnya, saya bermaksud memulai bahasan dengan kondisi kekuatan kolektif dari fashion atau united of corps. Ketertarikan saya pada bahasan ini terletak dari situasi yang saya lihat, mengapa united of corps dapat kita sebut sebagai kekuatan fashion? hal ini tentu terkait pada fashion sendiri yang memiliki peranan dalam pembentukan identitas pemakainya. Konsepsi united of corps sendiri memang berhasil membentuk image atau identitas, khususnya bagi pengunanya selain itu hal ini juga memberikan efek kepada orang lain yang melihatnya. Pengunaan ini memang menarik saya bahas, melihat kondisi yang ada dan dapat saya jadikan contoh. Misalnya kekuatan yang ditimbulkan dalam pembentukan united of corps.Sebagai contoh real adalah sekumpulan aksi massa mahasiswa pastilah atribut penting yang digunakan adalah almamater ( almamater = pakaian paling mahal waktu kita masuk kuliah ). Lalu pertanyaan berikut datang, yakni mengapa tiap mahasiswa aksi selalu mengenakan almamater?. Hemat saya mengatakan bahwa almamater sendiri berfungsi sebagai united of corps dari mahasiswa itu sendiri. Jelas bahwa kesatuan aksi massa harus didukung oleh united of corps karena inilah dasar dalam pembentukan identitas untuk menjelaskan siapa kita? dan dalam satu sinergi kesatuan. Masih banyak contoh yang lain, dan sebenarnya kita tidak menyadari bahwa diri kita ini sesungguhnya bagian dari united of corps itu sendiri. Contoh lain adalah jika pasukan TNI akan terlihat seperti pasukan TNI jika memang di intepretasikan dengan seragam militer yang melekat ditubuhnya. Atau hal lain seperti PNS yang akan terlihat jelas bila para PNS mengenakan seragam kesehariannya atau mungkin batik KORPRIpns1. Kasus yang terkini misalnya didalam kampus saya, terdapat berbagai macam jurusan yang memang mewajibkan para juniornya untuk mengenakan seragam sesuai aturan seniornya, atau bahkan untuk anggota pengurus organisasi mahasiswa yang memang sengaja menonjolkan bentuk identitasnya dengan pakaian khusus seperti jaket kelompok atau kaos. Hal ini memang secara tidak sadar kita ada dalam bagian dari united or corps itu sendiri. Dan fashion memang akan membawa kita pada suatu pembentukan identitas kita dalam kelompok lingkungan kita. Sadar atau tidak bahwa ternyata kita bagian dari kelompok itu. Dan inilah simbolisasi kekuatan fashion yang memang dapat memberikan berbagai pengaruh tidak sekedar penutup bagian tubuh namun jauh lebih penting sebagai identitas siapa saya?.

MR. BRIGHTSIDE January 22, 2009

Posted by anditceria in Uncategorized.
2 comments

Haru biru kemenangan presiden Amerika terpilih Barack Obama sungguh membuat euforia yang begitu besar sampai ke tanah air ( bahkan untuk peristiwa pelantikannya saja hampir seluruh stasiun TV di Indonesia menyiarkannya ) bak selebritis kepopuleran Barack Obama memang sangat terasa berbeda dibandingkan Pemilu AS sebelumnya. Hal ini tentunya menjadi suatu pandangan atau persepsi yang memang perlu untuk kita kaji, lepas dari Barack Obama yang memang memiliki hubungan batin dengan Indonesia. Namun euforia ini memang terbentuk oleh kondisi opini masyarakat global yang memang telah jenuh dengan konsepsi pemikiran pemimpin yang telah usang. Disamping itu harapan yang begitu besar sungguh telah diberikan kepada sang presiden terpilih. Ini memang menjadi bahasan diskusi kita dalam kaitannya dengan efek yang akan diterima oleh negara kita, memang Barack Obama pernah menetap di Indonesia namun apakah hal ini dapat dijadikan parameter kita dalam menilai kebijakan – kebijakan yang akan diambil Barack Obama kelak dalam memimpin Amerika dan dapat memberikan dampak yang positif pada Indonesia.
Di tanah air sendiri memang benar – benar terasa euforia kilauan penokohan dan pencitraan yang dibentuk untuk Barack Obama, sungguh terlalu dalam menyambut pemilu di AS. Sampai pada hal yang lucu ketika saya kuliah, waktu itu mata kuliah yang saya ambil adalah seminar pemasaran ini merupakan mata kuliah terakhir sebelum menuju tugas akhir atau yang biasa dibilang skripsi. Dikelas itu saya dengan rekan – rekan lain seperti biasa hanya mendengarkan dosen, mengerjakan tugas yang diberikan dan bila perlu presentasi di depan kelas. Hal yang menurut saya menarik dari kelas ini adalah saat dosen saya memberikan tugas tentang analisis marketing peristiwa – peristiwa politik. Waktu itu sedang hangat – hangatnya kita melihat kemenangan gubernur Jawa Barat yang lebih populer disebut HADE. Tak lepas juga dari peristiwa luar negeri seperti peristiwa Barack Obama ini, yang kala itu sedang bertarung dengan Hillary Clinton ( mantan Ibu Negara AS yang sempat tergocang rumah tangganya oleh Monica Lewinsky kala Pak Clinton memimpin AS ). Memang seru dan menjadi perhatian seluruh masyarakat peristiwa ini. Terlintas di benak saya bahwa sebesar inilah opini yang terbentuk atas inisiatif kaum muda yang memang memiliki dasar untuk perubahan. Dapat dibayangkan saat kuliah untuk marketing sesaat berubah untuk menganalisis marketing politik Barack Obama. Dampak inilah yang saat ini menjadi pertanyaan saya, apakah saat pemilu kemarin ekspektasi kita terhadap tokoh yang kita puja dapat sesuai dengan realita yang ada kedepan. Tak dapat dipungkirin, kondisi ini terasa sangat kontradikasi dengan apa yang ada, lihat dulu kondisi tanah air. Hal yang sama juga terjadi saat Presiden SBY menuju kursinya di tahun 2004. Ekspektasi kita sangat besar terhadap suatu perubahan dan berbagai hal – hal dalam penyelesaian problematika negeri ini. Tahun ini akan menuju pada kepemimpinan yang baru. Berbagai macam kebijakan dikeluarkan dalam menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat, sebut saja penurunan harga BBM yang begitu terasa bagai obat penyejuk bagi rakyat kecil, padahal bila kita tinjau seksama memang penurunan ini dapat dikatakan seperti pemanfaatan momentum untuk merias citra pemerintah agar dapat maju lagi ke panggung. Saya pikir penurunan harga yang begitu dramatis ini bukanlah suatu prestasi namun lebih kepada keharusan atau kewajiban karena memang harga minyak dunia sudah berangsur – angsur turun, kebijakan – kebijakan lain pemerintah saat akhir periode ini telah menjurus pada kebijakan semi populis dimana kebijakan – kebijakan yang ada memang diarahkan untuk memberikan satisfaction terhadap masyarakat mayoritas. Seperti sedang bermain drama saja kadang – kadang memainkan antagonis lalu berubah menjadi prontagonis. Memang wajar bila sedikit berbenah diri saat ingin tampil lagi. Nah bila didalam negeri sudah seperti ini hal yang sama juga menjadi ekspektasi dan penilaian persepsi saya terhadap Presiden terpilih Barack Obama ( yang pelantikannya saja sudah seperti konser woodstock, ramai oleh penonton ). Saya berpendapat bila terlalu tinggi ekspektasi kita terhadap pencitraan tokoh dapat memberikan efek terhadap kepemimpinannya. Seperti halnya kebijakan – kebijakan yang akan diambilmemiliki kecenderungan kearah kebijakan populis ( atau dapat dikatakan supaya semua pihak senang ) untuk menyokong penokohan dan pencitraan kepemimpinannya. Tentunya menjadi bahan diskusi kita bersama bahwa apakah memang Barack Obama ini memiliki differensiasi dibanding pemimpin – pemimpin AS sebelumnya. Sedikit kontradiksi memang terlihat, saat India diguncang bom oleh pihak tertentu Presiden terpilih ini angkat bicara untuk mengutuk tindakan tersebut, namun justru yang menjadi keraguan saya saat invasi Israel ke Palestina. Seolah diam dalam kondisi dilematis atau memang sejalan dan sepemikiran, Barack Obama justru tidak banyak bicara saat moment tersebut. Padahal peristiwa di Jalur Gaza menjadi duka bersama lepas dari mayoritas persepsi sempit akan konflik agama, namun peristiwa ini harusnya memang menjadi perhatian bersama ( apalagi negara sebesar AS, harusnya dapat memberikan kontribusi yang efektif bagi perdamaian di Timur Tengah ). Semoga saja kondisi yang kontradiksi ini dapat sesuai dengan realita kedepan, karena ekspektasi kita sangat besar terhadap pemikiran Barack Obama bagi perdamaian dunia.
images

MENDIDIK MAHASISWA DENGAN PERGERAKAN DAN MENDIDIK PENGUASA DENGAN PERLAWANAN January 22, 2009

Posted by anditceria in Uncategorized.
add a comment

Berbagai macam peristiwa dinegeri ini tentunya telah banyak memberikan dampak dan manfaat yang signifikan terhadap perubahan segi sosial politik dan rasa keIndonesiaan yang besar bagi masyarakat. Mahasiswa sebagai motor perubahan tidak dapat dapat dikesampingkan sebagai insan yang memiliki peranan penting terhadap perubahan di berbagai belahan dunia khususnya di Indonesia. Sebut saja berbagai peristiwa yang menjadi tongak perubahan dimulai dengan Sumpah Pemuda 1928 hingga berakhirnya rezim Soeharto di tahun 1998 yang dinamakan era reformasi. Peranan ini terus terjaga dan mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak – hak rakyat, namun justru belakangan ini terlihat penurunan atau degradasi pergerakan mahasiswa yang rentan dari perpecahan dikalangan mahasiswa itu sendiri. Sebuah gerakan mahasiswa yang masih mau berpretensi menjadi gerakan moral dan pengawal kebijakan pemerintah demi menuju demokrasi, ukuran kalah atau menang dan kuat atau lemah tidaklah menjadi standar penilaian. Yang lebih penting adalah, bahwa ketika terjadi pertarungan antara isu demokrasi dan dagang sapi, penindasan dan keadilan sosial, kejujuran dan korupsi, maka mahasiswa harus tetap konsisten berdiri di belakang rakyat. Dengan begitu, meskipun tidak berhasil menumbangkan rezim, mereka tetap akan dikenang rakyat sebagai pahlawan hati nurani dan penyambung aspirasi rakyat yang sesungguhnya. Sebuah kasus di China yakni peristiwa terbunuhnya para mahasiwa yang melakukan demonstrasi di lapangan Tiananmen pada 1988, akhirnya terbukti banyak berpengaruh dalam penumbangan kekuasan Deng Xiaoping. Sebab, pascaperistiwa tersebut, terjadi pertikaian elite politik di pemerintah dan tubuh Partai Komunis Cina yang menyebabkan pergeseran kekuasaan ( Calhoun, 1997 )(Neither Gods Nor Emperors, Students and Struggle for Democracy in China, 1997). Memberikan bukti bahwa mahasiswa memang memiliki tanggung jawab dan peranan dalam mengawal kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa harus senantiasa bangkit dan bersemangat untuk menyelamatkan bangsanya dari sebuah konspirasi politik nasional ataupun kekuatan kapitalisme global.
Di Indonesia sendiri peristiwa yang fenomenal terjadi di tahun 1998 yakni Gerakan mahasiswa Indonesia 1998 adalah puncak gerakan mahasiswa tahun sembilan puluhan yang ditandai dengan tumbangnya Orde Baru dengan ditandai lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, tepatnya pada tanggal 21 Mei 1998 Gerakan ini diawali dengan terjadinya krisis moneter di pertengahan tahun 1997. Harga-harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan mahasiswa. Ibarat gayung bersambut, gerakan mahasiswa dengan agenda reformasi mendapat simpati dan dukungan dari rakyat. Gedung wakil rakyat, yaitu Gedung DPR/MPR dan gedung-gedung DPRD di daerah, menjadi tujuan utama mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia. Seluruh elemen mahasiswa yang berbeda paham dan aliran dapat bersatu dengan satu tujuan untuk menurunkan Soeharto. Komitmen yang tegas dan solid pada waktu memberikan cerminan bahwa betapa solidnya pergerakan mahasiswa karena adanya common enemy yaitu rezim Soeharto.
Keadaan ini justru kontradiksi bila dibandingkan pergerakan mahasiswa setelah peristiwa 1998. Stagnasi pergerakan mahasiswa sekarang ini telah menjadi ulasan atau diskusi kita bersama. Hilangnya orientasi common enemy menjadi masalah yang datang setelah peristiwa 1998. Setelah Soeharto tumbang otomatis rezim yang garang dan berbaju baja praktis hilang digantikan dengan suara – suara kebebasan dan unsur – unsur masyarakat untuk beraspirasi. Pada akhirnya gerakan mahasiswa yang terfokus pada aksi massa atau demonstrasi jalanan bukan lagi menjadi khas mahasiswa seperti ditahun 1998. Sekarang justru setiap kelompok manapun bebas untuk berdemonstrasi kejalan memperjuangkan kepentingannya. Menurut Suwignyo ( 2008 ) seolah antitesis keberhasilan monumental menggulingkan rezim orde baru satu dekade lalu, akhir – akhir ini mahasiswa Indonesia menampilkan perilaku agresif dalam bentuk tawuran. Masalah yang terjadi saat ini adalah pertama terputusnya komunikasi antar generasi 1998 pada era saat ini baik dari elemen organisasi intra kampus dan organisasi ekstra kampus ( HMI, PMII, IMM, GMNI ). Masalah kedua adalah berubahnya minat saat ini dimana kondisi pengaruh hegemoni budaya barat telah melanda generasi muda saat ini, berbagai fasilitas seperti pembentukan komunitas dalam dunia maya telah menghilangkan esensi idealisme kerakyatan berbasis gerakan. Ketiga adanya pandangan bahwa common enemy gerakan mahasiswa harus berbentuk rezim politik, paradigma sempit inilah yang harusnya dikoreksi karena berbagai masalah timbul setelah 1998 bukan hanya sebatas rezim politik namun jauh dari pada itu masalah – masalah seperti persoalan lingkungan hidup, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Sebuah harapan baru diharapkan lahir dari kita yang memang memiliki peranan untuk bergerak memulai suatu tindakan yang berguna bagi masyarakat. Seperti kasus di Surabaya keberhasilan mahasiswa teknik mendesain robot, Di Jakarta mahasiswa menyuarakan kebersihan lingkungan dengan kampanye lingkungan bersih, atau didaerah lain seperti Sleman mahasiswa menghimpun dana untuk penanaman sejuta pohon ( Kompas, 2008 ). Tantangan yang ada saat ini pasca 1998 adalah perwujudan penguatan kesadaran identitas sosial dan peranan sosial kemanusiaan, jelas perilaku agrasif seperti tawuran bukan termasuk didalamnya. Perlunya refleksi bersama dari apa yang memang kita cita – citakan bersama untuk Indonesia dengan paham keIndonesiaan “ bersaudara dalam perbedaan dan berbeda dalam persaudaraan “.